PODCASTNEWS.ID – Mata dunia, khususnya Eropa, saat ini sedang mengarah ke Liga Inggris. Premiere League tengah menjadi magnet sentral bagi pesepakbola dunia. Hal ini terbukti dari bursa transfer pemain di beberapa tahun terakhir.
Liga Inggris begitu dominan menghancurkan klub klub eropa dalam urusan transfer. Hal ini tek lepas dari eksitensi bilyuner bilyuner Arab yang mengakusisi klub liga Inggris, khususnya dua dekade terakhir.
Dominasi di bursa transfer pemain diyakini lambat laut akan menjadikan liga di luar Inggris mengalami penurunan kualitas. Mantan Presiden Juventus Andrea Agnelli tampaknya melihat potensi Liga Inggris akan menjadi satu satunya liga di Eropa yang paling dominan.
Keseimbangan kekuatan sepakbola yang selama ini tersebar merata, khususnya di La Liga Spanyol, Liga Calcio Italia, Bundesliga Jerman, dan Liga One Prancis akan redup oleh dominasi Inggris.
Sepakbola Eropa diprediksi Agneli akan mengalami penurunan kualitas, terempas oleh dominasi sebuah liga. Bakat bakat pesepakbola dunia akan menumpuk di Liga Inggris.
Kondisi ini menurut Agneli memaksa sepakbola Eropa harus malakukan reformasi struktural untuk menghadapi masa depan. Deloitte merilis Football Money League termutakhir, di mana dipertontonkan peringkat klub sepakbola berdasarkan pendapatan. Data itu menggambarkan betapa dominannya klub klub Liga Inggris.
30 Besar
Pertama dalam sejarah, 80 persen anggota Liga Primer Inggris saat ini terwakilkan di 30 besar. Bayangkan saja, klub sekelas Leeds United mampu menduduki peringkat 18, di atas langganan Liga Champions seperti Benfica dan Ajax.
Salah satu sumber pendapatan terbesar klub Liga Inggris diperoleh dari hak siar, khususnya hak siar internasional yang nilainya meningkat sebesar 422 juta pounsterling per musim. Asisten Direktur Deloitte Chris Wood, menuturkan Liga Primer Inggris mendapatkan lebih dari dua kali lipat dari hak siar dibandingkan anggota Lima Liga Besar Eropa lainnya.
Buntutnya, selama sekitar satu dekade terakhir, klub-klub Liga Primer Inggris unggul jauh dalam hal pendapatan dibandingkan rival rival mereka di Eropa. ”Bagaimana klub-klub Eropa memperkecil gap dengan klub Liga Inggris? Itu adalah pertanyaan krusial yang harus dijawab,” ungkap Chris Wood.
Presiden Real Madrid Florentino Perez, menggarisbawahi bahwa Liga Primer tidak melakukan aksi ilegal. ”Menilik pergantian kepemilikan yang terjadi di London barat, Manchester, dan terakhir Newcastle. liga Inggris benar benar mengalami pertumbuhan luar biasa sejak 1992,” ungkap Perez.
Kieran Maguire, penulis The Price of Football mengatakan alasan mengapa Florentino Perez dan presiden La Liga, Javier Tebas mengkritik Liga Inggris, hanyalah didasarkan oleh kecemburuan. Menurut Macguaire, Liga Primer dengan jitu melangkah di berbagai aspek selama bertahun-tahun dan itu terejawantah dalam pendapatan hak siar yang memecahkan rekor.
”Layaknya efek domino, semakin banyak uang, makin menarik untuk pemain berbakat, semakin menarik untuk penonton, dan burujung menarik investor untuk investasi,” ujar Maguire.
Begitu Cerdas
Liga Primer Inggris menjadi satu hal yang tak ingin dilepas oleh para pemirsa TV, sekalipun ekonomi sedang sulit. Klub-klub Liga Primer begitu cerdas l melakukan tur keliling dunia dan berinvestasi di pasar asing demi menuai lebih banyak pengikut dan fans.
Langkah itu menciptakan situasi luar biasa di mana valuasi hak siar internasional Liga Primer Inggris melebihi valuasi hak siar domestik. Satu satunya pertunjukkan yang diminati pasar internasional di luqr Liga Inggris adalah El Clasico, Barcelona versus Madrid. Di luar El Klasiko, partai lainnya minim animo.
La Liga diyakini minim kesempatan bisa memperkecil gap dengan Liga Primer Inggris dalam hal pendapatan hak siar. Terlebih kepergian Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi diyakini meredupkan kilau El klasiko itu sendiri.
Marco Bellinazzo, penulis The New Football Wars, memandang satu satunya solusi adalah dengan kembali menempatkan fans sebagai pusat sepakbola dunia, sebagaimana kita saksikan di Liga Inggris.
”Guna menutup gap besar ini, liga liga Eropa mau tak mau dituntut bisa menarik lebih banyak atensi dari penonton internasional. Artinya melibatkan fans luar negeri dengan pendekatan yang lebih inovatif,” cetus Bellinazzo.
